Pemerintah Target Turunkan 10 Ribu Kasus COVID Per Hari di Agustus
Ilustrasi / PPKM darurat di Medan diterapkan dalam upaya menurunkan kasus COVID-19. PPKM Darurat dilakukan di Jawa, Bali, dan 14 daerah lain. (Ahmad Arfah/detikcom)

Jakarta – Pemerintah memasang target menurunkan 10 ribu kasus COVID-19 tiap hari pada Agustus nanti. Pemerintah memastikan akan mempertahankan jumlah testing dan tracing.

“Target kita bersama adalah menekan laju penularan, yakni dengan menurunkan kasus sampai 10 ribu kasus per hari di bulan Agustus,” kata juru bicara Kominfo, Dedy Permadi, dalam siaran langsung di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (12/7/2021).

Dia mengatakan testing dan tracing yang dilakukan naik 4 kali lipat dibanding sebelum masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Pimpinan pemerintah daerah diminta menelaah kembali Instruksi Mendagri No 15 tentang target testing tiap kabupaten/kota yang masuk PPKM Darurat.

Bagaimana kondisi kesehatan mental di Indonesia?

Hai, Sobat!
Gimana nih kabar kalian yang masih berada di jaringan rutinitas di tengah masa pandemi?
Aku harap kabar Sobat tetap sehat selalu ya!
Ngomong-ngomong soal pandemi yang sampai saat ini belum berakhir, aku mau ngajak
kalian untuk refleksi nih. Menurut kalian, gimana sih kondisi kesehatan mental di Indonesia
saat ini? Dengan melihat lingkungan terdekat, kalian merasa sudah tergolong luaskah
masyarakat Indonesia yang aware dengan kesehatan mental?
Kalau menutut aku pribadi, sebenarnya kondisi kesehatan mental di Indonesia ini sudah
mulai membaik dibanding lima hingga sepuluh tahun di belakang, lho!
Benarkah begitu?
Tentu dalam beberapa aspek di bidang kesehatan mental, awareness atau kesadaran
masyarakat mengenai kesehatan mental sudah tampak lebih baik dikarenakan masyarakat
sudah paham mengenai beberapa masalah kesehatan mental yang sering banget terjadi di
sekitarnya. Pandangan masyarakat mengenai masalah-masalah kesehatan mental yang sering
muncul terjadi terutama di masa pandemi seperti stress, kecemasan, hingga depresi bukanlah
hal yang bisa dianggap sepele.
Tentu saja perbaikan pandangan masyarakat mengenai kesehatan mental di Indonesia bukan
hanya didorong oleh satu pihak, melainkan berkat dorongan dan juga support dari banyak
pihak di kalangan Indonesia seperti organisasi kesehatan mental, support group, komunitas
online mengenai kesehatan mental dan juga pihak-pihak profesional seperti psikolog atau
psikiater hingga orang-orang terdidik dan awam yang ingin belajar untuk aware dengan
kesehatan mental itu sendiri.
Di zaman modern serba digital, media sosial juga berperan penting untuk meningkatkan
awareness masyarakat mengenai isu kesehatan mental di Indonesia.Selain meningkatnya warnet di kalangan masyarakat, perbaikan isu kesehatan mental juga
didorong oleh upaya pemerintah untuk mulai menyediakan jembatan atau fasilitas dalam
bidang kesehatan mental itu di Indonesia. Upaya ini tampak ketika pemerintah telah
menyediakan layanan konsultasi ke psikolog,nhingga menyediakan fasilitas konseling dalam
layanan BPJS. Sehingga masyarakat dapat menjangkau tenaga profesional di bidang
psikologi baik di rumah sakit besar maupun tingkat lembaga kesehatan terkecil di desa.
Meskipun masyarakat mengenai kesehatan mental telah meningkat terutama dalam beberapa
tahun terakhir, namun peningkatan ini masih jauh dari kategori yang ideal. Hal ini
dikarenakan jembatan atau fasilitas mengenai kesehatan mental belum cukup merata untuk
menjangkau seluruh daerah terhadap berbagai kalangan di Indonesia. Sehingga dapat juga
dikatakan apabila Indonesia masih tergolong darurat kesehatan mental.
Berikut ini adalah beberapa hal untuk menjawab “Mengapa Indonesia masih tergolong
darurat kesehatan Mental?” :

  1. Minimnya tenaga professional bidang Kesehatan Mental. Jumlah penduduk yang
    mengalami kasus gangguan kesehatan mental sekitar 7-10% dalam satu tahun (Riskedas,
    2018) tidak sebanding dengan penambahan tenaga profesional di bidang kesehatan mental
    seperti psikolog atau psikiater. Jumlah tenaga yang minim diperparah dengan persebaran
    yang tidak merata dan cenderung terkonsentrasi di kota-koya besar, menjadikan masyarakat
    terpencil masih kesulitan untuk mencari tenaga profesional di bidang kesehatan mental.
  2. Dalam penjabaran singkat di atas, BPJS memang telah mencakup layanan konseling
    kesehatan mental didalamnya. Namun balik lagi seperti poin nomor 1, bahwa layanan ini
    belum cukup merata dan cenderung terkonsentrasi di kota-kota besar serta pemerintah sendiri
    belum banyak melakukan program edukasi terhadap masyarakat. Berdasarkan data yang
    diperoleh di tahun 2018, jumlah rumah sakit jiwa di indonesia terhitung kurang dari 100 unit
    dengan 8 provinsi terkecuali yang tidak memiliki Rumah sakit jiwa.
  3. Stigma negatif masyarakat mengenai gangguan kesehatan mental. Meskipun kesadaran
    masyarakat mengenai gangguan kesehatan mental sudah mulai meningkat, namun stigma
    negatif dari masyarakat tetap ada dan tidak sebanding dengan peningkatan kesadaran
    masyarakat yang sudah membaik. Contohnya, orang stress dipandang sebagai orang yang
    kurang dekat dengan Tuhan. Padahal stigma negatif ini adalah hal yang salah namun masih
    terus terjadi di Indonesia.So, kontribusi apa yang bisa kita berikan sebagai generasi muda terhadap bidang kesehatan
    mental di Indonesia?
    Yuk, kita bangun langkah kecil mulai dari membangun lingkungan supportif terhadap
    kesehatan mental dan belajar untuk menghargai kondisi orang lain agar stigma negatif di
    sekitar kita mengenai kesehatan mental bisa terhentikan.
    Selain itu, dengan adanya media sosial di masa pandemi seharusnya dapat menjadi sarana
    agar kita lebih bijak dalam menggunakan media sosial. dengan adanya media sosial yang
    memperlancar dan mempermudah sarana komunikasi dan penyebaran edukasi bagi generasi
    muda, perlu bagi kita untuk menjadikan media sosial sebagai tempat untuk menyebarkan
    informasi informasi bijak mengenai kesehatan mental dan mengajak teman-teman di sekitar
    kita untuk serta membangun kesadaran kesehatan mental.
    Membangun relasi kesehatan mental dalam sebuah organisasi dan komunitas juga dapat
    menjadi permulaan danangkah kecil serta mengangkat tenaga professional untuk membangun
    fasilitas layanan kesehatan mental di platform online maupun offline, lho! Sehingga fasilitas
    berupa lembaga pelayanan kesehatan mental di Indonesia tidak hanya bergantung dari upaya
    dan pencapaian pemerintah dalam membangun, tetapi generasi muda juga bisa mencapai
    dengan langkah-langkah kecil seperti yang telah dijabarkan.
    Yuk, kita jadi #GenerasiMudaSehatMental